
Sukoharjonews.com – Vaping semakin populer dalam beberapa tahun terakhir sebagai alternatif yang dianggap lebih aman dibandingkan rokok tradisional. Namun, bukti yang muncul menunjukkan bahwa vaping mempunyai risiko kesehatannya sendiri, dan dampaknya terhadap kulit adalah salah satu aspek yang menimbulkan kekhawatiran. Salah satu alasan utama mengapa vaping diyakini berbahaya bagi kulit adalah paparan bahan kimia berbahaya yang terkandung dalam aerosol rokok elektrik. Meskipun rokok elektrik tidak menghasilkan tar atau banyak senyawa beracun yang ditemukan dalam asap rokok tradisional, rokok elektrik mengeluarkan berbagai zat yang dapat berdampak buruk pada kulit.
Dikutip dari Healthshots, pada Sabtu (30/12/2023), vaping melibatkan menghirup dan menghembuskan aerosol, sering disebut sebagai uap, yang dihasilkan oleh rokok elektronik, yang dikenal sebagai rokok elektronik atau vape. Perangkat ini memanaskan larutan cair, biasanya mengandung bahan kimia seperti propilen glikol, gliserin, perasa, dan nikotin opsional, untuk menghasilkan aerosol yang dapat dihirup. Berikut efek vaping bagi kulit yang perlu Anda ketahui:
1. Warna kulit kusam
Banyak rokok elektrik mengandung nikotin, zat adiktif yang dapat menimbulkan efek negatif pada kulit. Nikotin menyebabkan vasokonstriksi, yang mempersempit pembuluh darah dan mengurangi aliran darah ke kulit. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya pasokan oksigen dan nutrisi ke kulit, sehingga menyebabkan kulit kusam dan pucat. Berkurangnya aliran darah juga dapat mengganggu penyembuhan luka dan berkontribusi terhadap tertundanya atau buruknya penyembuhan cedera yang berhubungan dengan kulit.
2. Kulit kering
Salah satu efek samping utama vaping adalah dehidrasi dan kekeringan pada kulit. Menghirup uap panas dapat menyebabkan dehidrasi pada kulit, yang menyebabkan peningkatan kehilangan air transepidermal (TEWL). Hal ini dapat membuat kulit terasa kering, kencang, dan bersisik. Kulit kering dapat memperburuk kondisi kulit yang sudah ada, seperti eksim atau psoriasis, sehingga meningkatkan sensitivitas kulit.
3. Penuaan dini
Kolagen adalah protein penting yang memberikan struktur dan elastisitas pada kulit. Vaping terbukti mengganggu produksi kolagen, yang menyebabkan penuaan dini pada kulit. Berkurangnya kadar kolagen dapat mengakibatkan terbentuknya garis-garis halus, kerutan, dan kulit kendor, sehingga membuat kulit tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Sebuah penelitian yang diterbitkan di National Library of Medicine juga menyebutkan bahwa vaping memperlambat penyembuhan luka dan mempercepat penuaan kulit.
4. Iritasi dan peradangan kulit
Vaping melibatkan penghirupan berbagai bahan kimia dan racun, termasuk propilen glikol dan perasa. Zat-zat ini dapat menyebabkan iritasi dan alergen pada kulit, menyebabkan kemerahan, gatal, dan peradangan. Kulit sensitif lebih rentan mengalami reaksi alergi atau memperparah masalah kulit yang sudah ada, seperti eksim, rosacea, atau jerawat.
5. Timbulnya jerawat
Vaping telah dikaitkan dengan peningkatan risiko munculnya jerawat. Bahan kimia yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma kulit, yang menyebabkan pertumbuhan berlebih bakteri penyebab jerawat. Selain itu, nikotin telah terbukti merangsang produksi sebum, zat lilin yang dapat menyumbat pori-pori dan menyebabkan jerawat.
6. Peningkatan kepekaan terhadap radiasi UV
Vaping dapat meningkatkan sensitivitas kulit terhadap radiasi ultraviolet (UV) matahari. Radiasi UV diketahui merupakan faktor lingkungan yang berkontribusi terhadap penuaan kulit dan meningkatkan risiko kanker kulit. Hal ini mungkin membuat Anda rentan terhadap efek berbahaya dari paparan sinar matahari, termasuk sengatan matahari dan kerusakan kulit jangka panjang.(cita septa)



Facebook Comments