Simak di Sini, Berikut Ini Cara Menghidupkan Kembali Hati yang Sempat Mati

banner 468x60
Ilustrasi. (Dok Kemenag)

Sukoharjonews.com – Hati yang mati adalah hati yang tidak lagi merasakan getaran iman, tidak lagi merasakan takut kepada Allah, dan tidak lagi merasakan cinta kepada sesama. Hati yang mati seperti jasad yang tidak bernyawa, tidak lagi memiliki fungsi dan manfaat. Nah berikut menghidupkan kembali hati yang sempat mati.

Dilansir dari Bincang Syariah, Sabtu (25/7/2026), Rasululllah Saw selalu mengingatkan kita sebagai umatnya bahwa kebersihan hati akan mempengaruhi terhadap karakter seorang muslim. Kondisi itulah yang akan bisa menentukan sentifitas seorang muslim untuk membedakan mana perkara yang haq (benar) dan yang bathil (salah). Karena sebenarnya kesalahan yang diperbuat oleh kita adalah sebab matinya hati kita.

Allah Swt berfirman di dalam surat Al-Hajj ayat 47;

اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ.

Artinya; “Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar. Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj ayat 47).

Adapun langkah-langkah menghidupkan kembali hati-hati yang sempat mati adalah sebagai berikut.

Pertama, adalah tentu dengan senantiasa membaca Al-Qur`an dengan memahami dan merenungi makna setiap ayatnya.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ

Artinya; “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada.” (QS. Yunus ayat 57).

Dan juga ayat perintah merenungi makna Al-Qur`an.

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا

Artinya; “Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?.” (QS. Muhammad ayat 24).

Kedua, senantiasa bertaubat dan membaca Istighfar atas maksiat yang dilakukan karena maksiat itulah yang menyebabkan titik hitam pada hati yang berdampak mematikan fungsi hati orang-orang muslim. Sebagaimana

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ).

Artinya; “Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan.

Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (HR. At-Tirmidzi).

Ketiga, mengambil nasihat baik. Al-Qur`an menegaskan bahwa orang yang enggan mendengarkan nasihat adalah termasuk salah satu tanda orang yang rugi. Saling menasehati yang di dalam istilah Al-Qur`an disebut dengan tawāshy (saling menasihati) harus benar-benar mekanisme oleh setiap person dari orang muslim. Mengapa, karena urgensi dari saling menasihati adalah lantaran setiap hati manusia yang cenderung tidak stabil atau berbolak-balik (taqallub).

Rasulullah Saw bersabda; “Qalb (hati) itu ibarat bulu yang diombang-ambing oleh angin di tengah padang sahara.” (HR. Imam Ibnu Majah).

Maka cara untuk menjaga agar hati kita tetap stabil adalah dengan selalu mendengarkan nasihat-nasihat bijak dan baik.

Keempat, langkah keempat adalah dengan mengeluarkan zakatnya hati. Apa yang disebut zakat hati?. Zakat sendiri berarti tumbuh dan berkembang sehingga zakat hati ini bisa dipahami adalah upaya menumbuhkan hati agar terus berkembang di dalam kebaikan.

Ibarat tubuh manusia ia tak mungkin berkembang baik kecuali diberikan sesuatu yang bermanfaat bagi tubuh serta menghindarkan dari hal-hal yang membahayakannya. Begitu juga hati, ia tidak akan berkembang baik kecuali memberikan sesuatu yang bermanfaat dan menghindarkan dari hal-hal yang membahayakannya.

Zakat hati yang dimaksud adalah dengan membiasakan diri melakukan amal-amal taat. Semisal shalat sunnah, puasa sunnah, sedekah, dan amal baik lainnya. Dengan demikian maka hubungan jiwa yang baik dengan Allah Swt akan semakin erat, karena tidak hanya dihubungkan dengan hal-hal baik yang sifatnya wajib saja.

Jika demikian hubungan cinta antara Allah Swt dan hambanya akan semakin kuat, sehingga Allah Swt akan selalu menjaga hambanya dari hal-hal yang menjauhkan dari ridho-Nya.

Demikian menghidupkan kembali hati yang sempat mati. Semoga bermanfaat, Wallahu a`lam. (nano)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *