
Sukoharjonews.com – Kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan Pemerintah Pusat sangat dirasakan dampaknya oleh pemerintah desa (Pemdes) di Kabupaten Sukoharjo. Pasalnya, dengan efisiensi tersebut, nomial Dana Desa (DD) yang diterima juga turun drastis.
Ketua Paguyuban Kepala Desa Kabupaten Sukoharjo yang juga Kepala Desa (Kades) Tanjung Kecamatan Nguter, Edi Nuryanto, mengatakan, semua desa merasakan dampak dari efisiensi anggaran tahun ini. Edi mengaku tahun ini menerima DD tidak sampai 50% dibandingkan tahun 2025
“Untuk Desa Tanjung, sebelum efisiensi anggaran menerima Dana Desa itu sekitar Rp800 juta. Tetapi, tahun ini tinggal menerima Rp300 an juta. Menyusutnya Dana Desa itu karena sudah langsung dipotong untuk Kebutuhan Koperasi Desa Merah Putih,” terang Edi, Selasa (20/1/2026).
Edi melanjutkan, dengan minimnya Dana Desa tersebut, otomatis pemerintah desa tidak bisa leluasa dalam hal pengembangan potensi desa atau pembangunan, khususnya infrastruktur. Sebab, dengan sisa anggaran yang kecil, tidak bisa digunakan untuk mencukupi semua.
“Setiap desa punya rencana pembangunan, tetapi dengan efisiensi ini menjadi terkendala karena belum bisa direalisasikan,” jelasnya.
Disinggung desa juga menerima Anggaran Dana Desa (ADD) yang bersumber dari APBD Kabupaten? Edi mengaku peruntukan untuk ADD sudah diatur sehingga tidak bisa digunakan untuk lainnya.
“ADD yang dari Pemkab itu sudah ada alokasinya, di antaranya untuk gaji perangkat, operasional desa dan kegiatan lain yang bersentuhan dengan masyarakat langsung,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Desa Tawang Kecamatan Weru, Maryanto membenarkan, situasi saat ini sedang tidak baik-baik saja dari sisi pembangunan di Desa. Hal itu dikarenakan menyusutnya Dana Desa yang diterima sehingga sangat berdampak pada pembangunan.
“Desa kami sebelumnya menerima Dana Desa itu Rp960 juta, sekarang tinggal 350 juta, ADD juga terjadi efisiensi. Ini yang membuat desa itu tidak leluasa dalam hal pembangunan,” jelasnya.
Padahal, selama ini banyak sekali aspirasi dari masyarakat terutama pembangunan infrastruktur itu terkaver dari Dana Desa. Di sisi lain, dalam situasi ini memang desa diharapkan lebih inovatif dalam menggenjot PAD. Namun demikian hal itu tidak mudah, karena karakteristik setiap desa itu berbeda.
“Kalau di tempat kami inovasinya ya ketahanan pangan. Salah satunya menggulirkan program ternak untuk warga yang nanti diharapkan bisa menambah pemasukan bagi desa,” tambahnya. (nano)















Facebook Comments